Rabu, 08 Juni 2011

Harapan Baru

Banyak dari kita yang membuat resolusi di akhir dan awal tahun. Resolusi tersebut merupakan evaluasi dari pengalaman-pengalaman yang kita miliki dan janji menuju ke sebuah harapan yang baru.
Namun berapa lama kita memegang harapan itu? Seminggu? Sebulan? Tiga bulan? Kebanyakan memegang harapan indah itu hanya beberapa saat dan kemudian tenggelam dalam gelapnya badai kehidupan. Terkikis waktu dan rutinitas yang menekan hidup.
Bagaimana mempunyai harapan yang memberikan semangat, memperkuat keyakinan dan akhirnya memetik manfaat darinya? Saya akan membahasnya dalam artikel kali ini.

Life Calling
Keponakan saya mempunyai banyak mimpi. Ia pernah ingin menjadi pengacara, karena merasa pandai berargumentasi. Ia pernah ingin menjadi pesulap, karena tertarik dengan kecerdikan pesulap. Ia pernah ingin menjadi konselor, karena ia suka menolong orang lain. Bagi seorang anak kecil semua keinginan itu sah dan dapat dicapai karena ia belum mengetahui waktu dan energi yang harus diberikan dalam proses mencapai mimpi-mimpinya.
Kita yang lebih dewasa mengerti bahwa dibutuhkan paling tidak 4-6 tahun untuk menjadi pengacara, beberapa tahun untuk menjadi pesulap, dan 4-6 tahun lagi untuk menjadi konselor. Pada akhirnya ia akan menghabiskan waktunya di bangku kuliah dan bukannya untuk mengerjakan cita-citanya.
Demikian pula halnya dengan harapan yang kita buat sebagai resolusi tahunan. Tanpa sebuah panduan yang jelas maka harapan yang dibuat akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan tahun-tahun berikutnya.
Rasul Paulus mengajarkan agar kita tidak menjadi seperti seorang petinju yang sembarangan memukul. Melainkan menjadi seseorang yang tahu dengan jelas sasarannya, apa yang ditujunya, dan apa yang diharapkannya. Menemukan tujuan hidup akan membantu kita mengevaluasi hidup dengan lebih terarah. Menemukan tujuan hidup juga akan membantu kita melihat titik kritis apa yang perlu diperbaiki, potensi apa yang perlu ditingkatkan, kesempatan apa yang perlu diraih, studi apa yang perlu ditempuh, dan akhirnya harapan, janji, dan resolusi tahunan apa yang akan kita buat.
Dengan menjadikan tujuan hidup sebagai fokus hidup, maka kita akan terhindar dari membuat harapan-harapan yang berbeda-beda tiap tahun dan berakhir dengan tidak mewujudkan satupun di antaranya.

Perencanaan Yang Benar
Thomas Alva Edison dicemooh oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang pemimpi ketika ingin menciptakan “terang di malam hari”. Bapak Utomo, penemu dari air kemasan Aqua, dicemoh ketika berpimpi menjadikan air kemasan sebagai usaha. Banyak orang sukses yang tadinya dianggap pemimpi. Namun perbedaan antara mereka dengan orang-orang yang sekadar bermimpi adalah mereka berusaha merealisasikan mimpi-mimpi mereka dengan langkah-langkah yang terencana.
Thomas Alva Edison melakukan banyak penelitian yang tentu saja terencana dengan baik hingga akhirnya dapat menemukan bola lampu pertamanya. Bapak Utomo melakukan perencanaan dan kerja keras yang tidak perlu diragukan lagi dalam memasarkan produk air kemasannya. Hal ini yang bukan saja membuat Aqua sukses di Indonesia, bahkan merek Aqua ini dibeli oleh perusahaan makanan dan minuman dunia asal Perancis, Danone.
Setiap orang bisa bermimpi. Tetapi dibutuhkan perencanaan yang baik, kerja keras, serta keuletan agar mimpi itu menjadi kenyataan. Faktanya beberapa mimpi dan harapan yang kita miliki mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk merealisasikannya. Jika kita tidak mempunyai Life Calling atau tujuan hidup sebagai panduan dan perencanaan yang matang serta tekad untuk bekerja keras, hampir bisa dipastikan harapan yang ada di dalam resolusi akan raib diterpa angin kehidupan tengah tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar